Karnivor perkasa Gagahmu tiada tara Sekali memekik bergegar bukit dan rimba Kibas kelepakmu cukup untuk menggerunkan mangsa Daerahmu langit gelanggang pencakmu bumi dan laut
Sungai ini sungaiku 10 tahun dulu Aku suka mandi di sini Mengejar anak-anak ikan di celah batu-batu Berteduh di bawah pohon-pohon rendang di tebingnya Sambil melamun dan melihat rumput menari-nari ditiup bayu
Hari ini, 10 tahun terkemudian aku datang menjenguk sungaiku Sungaiku bukan sungaiku dulu Gemercik airmu tidak kedengaran lagi Yang ku dengar hanyalah tangismu Terisak menderita, merintih, kecewa
Awalnya Aku sungai yang jernih Arusku deras mengalir Aku tidak meluap bila dilimpah hujan Aku mengalir ke sawah dan ladang Aku bekalkan minuman untuk manusia dan binatang
Tapi Manusia menodai kesucianku Manusia mensia-siakanku Manusia merubahku jadi buruk Manusia meracuniku dengan sisa najis dan kilang Manusia mencampakkan sampah dan kotoran Wajah ku hitam Aku kotor Aku busuk Manusia membunuh teman-temanku Ikan-ikan mati Rumput rumpai mati Pepatung pun turut mati
Hari ini Aku pergi dengan air mata bergautan di kelopak mata Sungai ku terhina dan tiada siapa yang peduli Aduhai sungai, kau masih sungaiku lagi
Larut malam itu , sejuk, sunyi, tenang Langit cerah Bayu laut meniup lembut, segar Ombak beralun-alun gemalai
Datang tiba-tiba rindu berhembus di jiwa Keinsafan terjejak di taman hati Aku mahu bertemu Mu Bersimpuh di hadapan Mu
Gementar jiwa dan raga Hati tertanya-tanya Apakah Kau mahu bertemu dengan ku lagi Apakah Kau terima jua aku mendekati Mu Aku yang banyak kesalahan dan kesilapan Aku bangun jua membersih diri Untuk sujud di kaki Mu Aku mahu... Kau dengar sedu sedanku Kau tahu kekesalanku Kau terima taubatku
Aku mahu... Berlindung dengan kalimah Mu Berkota dengan nama-nama Mu Berpayung dengan keampunan Mu
Masih belum terlewat untuk ku mendapat titik mula Ya Tuhan Ampunan Mu menguasai segala-galanya Mengatasi apa yang ada di bumi dan di langit Lebih besar dari kesalahan hamba-hamba Mu Ya Tuhan Peluklah aku dengan belas kasih sayang Mu Hanya Engkau yang aku sembah Hanya Engkau tempat aku beriman Hanya Engkau tempat aku berlindung dan memohon keselamatan
Cahaya bulan di jendela Ku biarkan sinarnya lembut ke kamar Dan sering juga ku buka jendela Mengizinkan angin malam sejuk membelai pipiku Aku amat menikmati saat kesunyian larut malam berdakapan dengan sepi hatiku
Perempuan itu dengan terendak di kepala Dah berdekad menyemai padi di sawah Tak menangisi kepayahan Usahkan meratapi kemisikinan Menerima dengan syukur Mendakap dengan tulus Ujian dan kurniaan Tuhan Wahai perempuan Panggilan yang indah untuk Semangat wajamu itu Adalah Ibu Taniku
Gerbang perpisahan pasti Kalau dah sampai waktunya Yang tinggal hanya kenangan berhias sunyi Perpisahan yang menyalut duka Rindu yang tertanam di lubuk jiwa
Mengembara mengejar cita Ia menuntunku untuk beranjak Langkah demi langkah Ranjau dan duri Tetap ku tempuhi Langkahku menuju tujuan Ada cahaya terang didepanku
Masa kecilku indah Walau hidup sederhana Tapi aku bahagia Abah memenuhi kehendakku Emak melayan manjaku Akak mengajarku menjadi jelita Abang mendengar rungutanku Masa kecilku akulah puteri
Kakak itu Langkahnya menyusur dingin pagi Sekeliling kampung berjaja hasil tani Sejarahnya penuh luka Genang dikelopak mata Dah tidak ada makna Di rumah lima mulut menanti